Sejarah Madrasah

Madrasah Ibtidaiyah Negeri Banda Aceh pada awalnya bernama Sekolah Rendah Islam (SRI) Pendidikan Guru Agama (PGA) atau dikenal dengan nama SRI PGA. Sekolah ini diresmikan secara bersamaan dengan sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) pada tanggal 1 Agustus 1959 oleh Inspeksi Pendidikan Agama Islam Provinsi Aceh. Peresmian tersebut dihadiri oleh pejabat-pejabat pemerintahan dan tokoh-tokoh terkemuka lainnya di Aceh. Setelah peresmian, SRI PGA ini dikoordinir oleh Ustadz Sulaiman Jalil (Alm) salah seorang Guru senior Pendidikan Guru Agama (PGA) selama 1 tahun, pada saat itu gedung PGA dan SRI masih bergabung dalam satu komplek, kemudian pada tahun 1960 Hj. Fatimah Ali menjabat sebagai kepala Sekolah Rendah Islam (SRI) Pendidikan Guru Agama (PGA) pertama setelah sekolah tersebut diresmikan. Pada masa itu gedung Sekolah Rendah Islam (SRI) Pendidikan Guru Agama (PGA) sudah permanen dan dianggap sangat bagus jika dibandingkan dengan Sekolah Rendah Islam (SRI) lainnya di Aceh, SRI PGA ini dibangun diatas tanah milik Yayasan SMI/SMIA (Yayasan YPUI Darul Ulum).

Tenaga pengajar di SRI PGA pada awalnya hanya 3 orang guru lulusan PGAA II Yogyakarta, termasuk Kepala SRI PGA yakni Hj. Fatimah Ali tamatan PGAA II putri Yokyakarta, Ahmad Nawawi dan Sumarsono tamatan PGAA II putra Yogyakarta. Siswa pertama yang sekolah di SRI PGA ini berjumlah 22 orang yakni kelas I sebanyak 6 orang, kelas II 8 orang, dan  kelas III 8 orang, siswa-siswa tersebut sengaja dipindahkan dari Sekolah Rendah Islam (SRI) Sukadamai 13 orang dan Sekolah Rendah Islam (SRI) Mesjid Raya 9 orang dengan persetujuan orang tuanya masing-masing. Meskipun ruang belajar dan ruang dewan guru pada waktu itu sudah tersedia sebanyak 8 ruang, namun yang bisa dipakai hanya 4 ruang, 1 ruang dipakai untuk kantor dewan guru, dan 3 ruang untuk ruang belajar, sementara 3 ruang lainnya dipakai oleh Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) untuk kantor pengamanan Daerah Aceh yang masih bergejolak Gerakan Kelompok Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TI).

Pada Tahun 1968 SRI PGA berubah nama menjadi Sekolah Latihan PGA, pada tahun itu juga Sekolah Menengah Islam (SMI) berubah nama menjadi Madrasah Tsanawiyah Agama Islam Negeri (MTsAIN) dan Sekolah Menengah Islam Atas (SMIA) menjadi Madrasah Aliyah Islam Negeri (MAIN).Sekolah Latihan PGA terus berkembang menjadi sekolah yang diminati oleh masyarakat Jambo Tape dan sekitarnya, bentuk dukungan masyarakat juga sudah bisa dirasakan oleh pihak Sekolah, tokoh masyarakat yang sangat berperan dalam memperjuangkan kemajuan Sekolah Latihan PGA ini yakni Ibrahim Amin (Alm), Atta, dan Hasan Samalanga. Selain masyarakat, orang tua murid juga ikut berpatisipasi dalam memajukan sekolah, pada saat itulah orang tua siswa membentuk sebuah wadah organisasi persatuan orang tua murid yang pertama sekali dipimpin oleh Tgk. Sulaiman Ma’ruf. Pada tanggal 1 Januari 1978 Sekolah Latihan PGA dinegerikan oleh H. A. Mukti Ali selaku Menteri Agama Republik Indonesia sesuai dengan SK Nomor 15 Tahun 1978 dan berubah nama menjadi Madrasah Ibtidiyah Negeri (MIN) latihan Pendidikan Guru Agama (PGA) atau dikenal dengan nama MIN latihan PGA. Setelah tahun 1978 Animo masyarakat untuk mendaftarkan anak-anak mereka ke MIN Latihan PGA ini semakin meningkat hingga pihak Madrasah terpaksa harus membuka kelas belajar sore dan menambah tenaga pengajar agar pembelajaran dapat berjalan dengan maksimal.  Pada tahun 1984 MIN Latihan PGA berubah nama menjadi Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Banda Aceh, karena sekolah Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) dipindahkan ke Lamteumen dan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Banda Aceh bukan lagi sebagai tempat latihan Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN).Pada masa perkembangannya MIN Banda Aceh dikenal dengan nama MIN Model Banda Aceh hingga sampai saat ini.